Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

DIARY TERAKHIR - Radar Madura (Jawa Pos), edisi : 2 Juni 2013

DIARY TERAKHIR
(Benny Can)

Matahari mulai menampakkan sinar seraya menyapa, seperti pagi mengantarkan raut indah dari mega langit berawan terpandangi. Rumput serasa enggan bergoyang karena angin masih tersapa pepohonan yang ingin melepaskan dari embun mendekapnya.  
Langkah menyusuri jalanan yang menyisahkan hempasan embun serasa dingin dari setiap jengkal langkah menyambangi disanalah pantai. Hilir mudik orang beriring menikmati hari libur dan bersantai merasakan keindahan pantai seperti Tuhan lukiskan dengan segalah keunikannya. 
          Aku ada disini menikmati untuk sesaat melepas rindu yang hanya angin mengertinya. Indah begitulah tertatap keindahan alam yang terlukis pada pantai dan seolah menggambarkan perasaan karena dengannya merasakan keindahan seperti Indah aku sebut namanya.     
Rasa ini adalah cinta, ada dalam hati untuk suatu saat menginginkan dia tahu akan rasa yang tak berpura pada keyataan. Tetapi aku tak bisa mengungkapkan, hanya menjadikan hampa terasa disetiap sudut rindu yang membentuk cemburu bila merasa tak beta tanpanya. Takut dan tak ingin pertemanan sejak kecil menjadi hancur bila ia tahu akan ketulusan rasa yang selalu bertakbir dalam setiap teriak hati ini.
“Hei, kenapa bengong,” sapa temanku.
“Hei, mana Indah?” tanyaku.
“Dia nyusul belakangan, masih mandi,” sahutnya.
Aku yang berharap dia datang dan menemui seperti biasa kita selalu bercakap dan bercanda bersama selayaknya yang terjadi. Harapan itu jugalah yang sebenarnya menjadikan pelebur rindu untuk sekedar berpura akan perasaan sesungguhnya. Terus menunggunya, dari itu aku hanya bisa melihat ombak berkejaran tersapa angin dan pasir berterbangan seolah menyapaku untuk tersadar matahari telah beranjak  jauh meninggalkan timur.
“Ada apa disana?” tanyaku pada orang yang baru datang.
“Ada kecelakaan, seorang gadis ditabrak motor di pertigaan jalan,” jawabnya.
Sontan saja aku beranjak dan ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Sesampainya hanya cerita orang yang bercerita betapa luka yang dialaminya sangat parah dan korbannya sudah di bawah ke rumah sakit.
“Ini tas milik korban,” teriak seseorang.
Aku lihat adalah tas milik Indah. Sesaat itupun dengan persaan sedih dan khawatir aku  menyusulnya ke rumah sakit.
“Om, dimana Indah,” tanyaku pada orang tuanya.
“Indah luka parah di kepalanya dan kata dokter harus di operasi,” jawabnya.
Doapun terpanjat dari setiap tetes air mata seraya menyatakan sedih mengiring sambil  menunggu ucap dokter yang mengatakan dia akan pulih seperti biasanya. Sesaat itu aku membuka tasnya karena hp berbunyi dan juga memberanikan mengambil diarynya. Aku yang membacanya hanya bisa terkejut dan tersenyum, semua adalah tentangku.
“Indah, kau sebut nama adalahku ingin keindahannya dan semua biarlah terjadi untukku mengabdi pada nyata hingga akupun ingin bersupah padah teguh untuk tak putus asa mencari celah, darimu aku ingin temukan rasa untukku merasakan. Selayaknya nafas ini sepertinya nafasmu yang kau titipkan hingga menguatkan hati untuk milikimu karena jiwa tak untuk tertinggalkan. Bila parasmu terpandangi serasa untuk selalu bersama karena hati dan jiwa tak ingin kehilangan, hanya dirimu bisa kembalikan lagi senyum dari aku yang tak betah. Indah, adalah aku yang seharusnya kau sebut keindahan kerana takkan berhenti untuk mencintai yang seharusnya tertakdir sebelum Tuhan mengatakan ini berakhir. Aku ada untuk mencintaimu,” katanya dalam tulisan diary terakhirnya.
Senyum merasakan apa yang seharusnya terjadi dan pengakuannya membuat aku ingin memeluknya. Tapi, aku hanya bisa pegangi tangannya di kamar rawat yang baru sajah dia dipindahkan.
Diapun tersadar dan apa yang ditakutkan seperti ucap dokter yang menanganinya benar-benar terjadi. Penggumpalan darah di otaknya membuat saraf matanya tergaggu dan mengakibatkan dia tidak bisa melihat.
Tangis dan amarahnya memuncak, dia berteriak dan mungkin menyesali yang telah terjadi, orang tuanya tak mampu menenangkan dan hanya tangisnya yang mengundang tangis orang tuanya.
“Ma’af Om, biar saya yang akan menghiburnya,” ucapku.
“Ok dan biar saya keluar,” jawabnya.
“Indah,” sapaku.
“Kamu, nagapin ada disini dan mau apa, apa hanya ingin menghina? lebih baik pergi dan biarlah semua ini terjadi dan aku akan menjalaninya sendiri,” sahutnya.
“Aku sudah baca semua diarymu dan apa yang menjadikan harapanmu adalah juga harapanku untuk bisa mencintai dan milikimu.”
“Itu sudah berlalu, sekarang berbeda dan aku kira takkan ada orang yang mencintaiku dengan seperti ini,” ucapnya seperti sesal dari tangisnya.
“Kamu tunjukkan keindahan sesaat itu tanpa sadar kau ajarkan cinta dan ajarkan luka karena aku tak merasa betah bila tanpamu. Cinta ini telah ada tanpa syarat dan hanya kepadamu ingin menghuni ketulusan dari setiap waktumu, seperti ketulusan hati mencintaimu untuk miliki dan menjagamu sampai akhir detik berhenti memutar waktu.”
 “Tapi.”
“Biarkan mata ini mengatakan bahwa keindahan itu ada, biarkan tangan ini menuntunmu setiap langkah bersama kakiku menjalani hari mengarak matahari, bila itu akan merasakan malam yang selalu memihak pada kita.”
Memeluknya untuk membuktikan bahwasanya jiwa ini mencintai setulus hati untuk mendampingi dan bercerita tentang kita dan cinta di sisa waktu hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar